Artikel

SMPN 1 Puger, Wakil Jember dalam Lomba Pramuka Tingkat Jatim
Tak Mau Gagal Lagi, Perdalam IT

Ini bukan kali pertama bagi siswa SMPN 1 Puger yang tergabung dalam kelompok Pramuka Penggalang menyabet juara terbaik tingkat Kabupaten Jember hingga melaju ke tingkat Jawa Timur. Mereka berharap, kegagalan sebelumnya tidak terulang lagi hingga bisa melaju ke tingkat nasional.

Nur Fitriana, Jember

---
WAJAH lelah terpampang jelas pada anak-anak yang sedang mengikuti latihan ketangkasan Pramuka. Namun, tak ada sedikit pun gurat masam di wajah-wajah belia itu. Mereka justru tampak sangat menikmati ragam latihan ketangkasan yang diberikan oleh pembina Pramuka mereka.

Adalah Alin Rico, salah seorang dari sepuluh siswa SMPN 1 Puger yang lolos dari seleksi kecamatan hingga kabupaten untuk mewakili Jember di ajang LT IV Jawa Timur pada 14 Juli hingga 18 Juli mendatang di bumi perkemahan Kebun Raya Purwodadi.

Rico, begitu ia biasa dipanggil, mengaku cukup senang bisa lolos hingga tingkat Jawa Timur. Meski sebelumnya, ia tak menyangka jika sekolahnya mampu menjadi yang terbaik se-Kabupaten Jember. Namun dengan semangat yang gigih, keberhasilan lolos hingga tingkat Jawa Timur membuatnya semakin bersemangat untuk belajar.

Pagi itu, ia dan kawan-kawannya belajar tentang internet. Belajar dari kegagalan tahun-tahun sebelumnya, sang pembina memang berupaya keras untuk pengadaan internet di sekolah. Selain mempermudah proses belajar, pengadaan internet itu juga dimaksudkan untuk menggembleng siswa yang mengikuti Pramuka penggalang dalam memenuhi persyaratan kemampuan IT.

Pelajaran memahami internet, membuat e-mail, facebook, dan juga blog membuat Rico berpikir cukup keras. Siswa yang baru saja naik ke kelas IX ini mengaku sempat belajar internet sedikit-sedikit secara otodidak. Di kelas VIII, dia belum diajarkan tentang internet.

Meski akhirnya dengan mudah dia belajar membuat e-mail dan facebook, ketika disuruh untuk membuat blog, berulangkali harus garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Selain kesulitan membuat desain satu blog yang dibuat secara berkelompok, ia juga kesulitan membuat blog-nya sendiri untuk dijadikan link di blog yang sudah dibuat secara berkelompok.

"Kita hanya disuruh posting sebenarnya. Tapi sulit cara-caranya. Mungkin karena memang belum terbiasa saja," ungkapnya malu-malu. Dibandingkan membuat menara dari tongkat Pramuka dan tali-temali, membuat blog adalah yang paling susah bagi Rico.

Jika membuat menara dari tongkat Pramuka dengan menggunakan tali-temali, Rico dan kawan-kawan hanya membutuhkan waktu 10 menit saja untuk menyelesaikan 4 tenda yang terdiri dari, tenda utama, tenda dapur, tenda barang, dan juga tenda untuk kamar kecil mereka.

Menurut Mochammad Solikhin, Pembina Pramuka mereka, pemahaman akan teknologi memang sedikit susah mengingat letak sekolah mereka yang cukup terpencil. Pengadaan internet saja, baru-baru ini mereka berhasil mengusahakannya. Sebab itulah, kemampuan siswa mereka untuk lebih cepat menangkap tentang IT cenderung lebih rumit.

Solikhin telah berpengalaman menjadi pembina Pramuka di SMPN 1 Puger sejak bertahun-tahun yang lalu. Sejak menjadi guru honorer di SMPN 1 Puger, hingga kini ketika baru saja memperoleh gelar PNS-nya.

Menurut dia, dari tahun ke tahun, yang menjadi persoalan mendasar bukanlah kemampuan siswa yang menjadi permasalahan utama, melainkan sarana dan prasarana yang kurang mencukupi.

Solikhin bahkan harus mengajak hampir seluruh orang tua wali murid untuk patungan demi memfasilitasi anak didiknya yang lolos ke tingkat Jawa Timur. "Selama ini kami memang mendapatkan bantuan yang minim dari kabupaten. Mereka hanya memfasilitasi transportasi, makanan dan juga pendaftaran," katanya.

Untuk seragam, perlengkapan perkemahan, tas container dan juga beragam peralatan untuk uji ketangkasan diusahakan sendiri dari siswa. "Nggak tahu juga ya, sebenarnya, kan Pramuka itu sudah memiliki dana yang cukup banyak. Iurannya setiap tahun rutin dan diwajibkan. Tapi ketika kita benar-benar membutuhkan, dana itu nggak ada," tukasnya lagi.

Namun, bagi Solikhin, perjuangan untuk ke tingkat nasional haruslah bisa diusahakan semaksimal mungkin. Berbekal dengan semangat para siswa, Sholikhin pun yakin anak didiknya bisa menyabet juara nasional.

Dalam LT IV nanti kemampuan siswa benar-benar diuji. Selain melakukan beragam uji ketangkasan, mereka juga masih akan diuji dengan kemampuan sosial lainnya. Seperti kemampuan jurnalistik, pidato, teknologi tepat guna, daur ulang bahan bekas, hingga English Corner dan tari.

Kemampuan-kemampuan macam itu yang kemudian menjadi tantangan bagi Solikhin dan anak didiknya untuk menunjukkan bahwa siswa di desa tak kalah dengan siswa di kota.

"Sebenarnya kemampuan intelegensia itu kan bisa diasah, tapi kalau keberanian dan juga patriotisme, tumbuh sesuai dengan lingkungan yang mendidik mereka," katanya.

SMPN 1 Puger akan mengirimkan 10 orang siswa laki-laki untuk mengikuti LT IV. Sedangkan untuk grup perempuan, dikirimkan dari siswa SMP Annisa Gumuk Mas, dengan pembinanya, Riyono.

Solikhin optimistis, meski harus berusaha sekuat tenaga dengan biaya sendiri. Anak didiknya pun bersemangat untuk selalu bisa bersaing sehat dengan lawan-lawannya dari kota-kota lain nantinya.

"Kami berharap bisa lolos 3 besar di LT IV nanti. Kemandirian, keberanian dan semangat anak desa lah yang kami bawa ke tingkat Jawa Timur. Semoga bisa lolos hingga tingkat nasional," tandasnya. (*) (Buaya)


0 Responses to "Artikel"

Poskan Komentar

Powered by Blogger